Memiliki suatu perbedaan dengan banyak hal di sekeliling itu sangatlah wajar. Baik dengan orang lain, lingkungan, status sosial, bahkan kepercayaan atau agama. Namun sulit untuk menjadikan perbedaan itu sebagai sebuah pembelajaran hidup. Karena, saya cenderung melihat perbedaan itu secara sempit yaitu dari sudut pandang yang sejalan dengan apa yang saya pikirkan.
Perbedaan yang sering terjadi saat saya masih duduk di bangku SD – SMP adalah ketika pembagian kelompok. Saya pasti mencari teman satu kelompok yang juga pintar dan rajin. Dengan kata lain, saya menghindari bahkan mengacuhkan teman-teman saya yang kurang pintar. Karena menurut saya, teman-teman saya yang kurang pintar hanya akan memperlambat dalam penyelesaian tugas dan nilai kelompok pasti tidak akan bagus. Di sisi lain, saya juga tidak akan bisa belajar secara maksimal jika ada orang- orang yang saya tidak sukai. Secara tidak langsung, terbentuk suatu gap yang sangat mencolok antara si pintar dan si bodoh. Namun saat memasuki bangku SMA, saya mendapatkan kenyataan lain yaitu ketika saya mulai masuk organisasi. Di dalam tes seleksi masuk salah satu organisasi internal di SMA, saya mendapatkan tes dinamika kelompok. Di dalam tes tersebut, anggota kelompoknya ditentukan oleh senior. Kebetulan saya mendapatkan teman satu kelompok yang dahulunya adalah teman sekelas saya waktu SMP. Dia termasuk bodoh dan sangat saya benci karena dia sering membangga - banggakan kekayaan orang tuanya. Saya sempat meminta pindah kelompok kepada senior dengan alasan ada konflik pribadi, sayangnya permintaan saya tidak dikabulkan. Di dalam hati saya, saya berontak karena satu kelompok dengan dia. Pada saat dinamika kelompok, awalnya saya sangat bersikeras untuk mempertahankan ide saya dalam penyelesaian masalah yang diujikan dan juga sebaliknya. Pada saat itu, terjadi perang argumen yang malah menghabiskan banyak waktu dan tidak menyelesaikan masalah. Walaupun memang sebenarnya ide dia jauh lebih bagus daripada ide saya. Padahal, awalnya saya sangat optimis jika kelompok saya pasti akan selesai terlebih dahulu dibanding kelompok lain. Namun, kelompok saya malah paling terakhir.
Pada hari itu juga, hasil anggota organisasi yang lulus seleksi diumumkan. Saya senang karena lulus seleksi namun saya terkejut karena saya harus bekerja dalam satu divisi dengan dia. Saya sempat ingin mengundurkan diri tapi ketika mendengar sambutan dari ketua organisasi saya langsung berubah pikiran. Dalam sambutannya, dia mengakatakan bahwa orang bijak adalah orang yang bisa bekerja dengan siapa pun. Dari pernyataan itu saya merasa tertantang untuk menunjukkan kemampuan saya bahwa saya juga bisa bekerja secara maksimal dengan orang-orang yang berbeda kemampuan dan pemikiran dengan saya. Saya juga harus bisa menurunkan sifat sombong dan egois saya. Dari kejadian itu saya bisa menyimpulkan kalau tidak selamanya orang pintar selalu benar dalam segala hal, dan juga orang bodoh tidak selamanya salah. Selain itu, saya juga harus bisa menghargai pendapat dan mengakui kemampuan orang lain.
Kaitannya dengan mata kuliah ini, saya berharap bisa mendapatkan banyak pelajaran hidup dan tahu bagaimana menyikapi hal-hal yang berbeda di sekeliling saya. Selain yang sudah saya utarakan di atas, saya sebagai calon guru ingin mengetahui bagaimana tindakan yang tepat untuk menghadapi murid-murid saya nantinya yang memiliki latar belakang, sifat, agama dan budaya yang berbeda.
By : Hana Sofiyana

Wednesday, September 28, 2011
Sebuah kejujuran dan ungkapan yang tulus dalam essaimu ini sungguh menarik untuk dibahas.
Kadang kita menemukan sesuatu diluar yang kita harapkan. Jadilah orang yang selalu bisa BERSINERGI dengan siapapun. Orang yang seperti inilah yang akan menemukan titik kesuksesan.
Do the best for this course
Wednesday, September 28, 2011
Iya Pak.. ^_^
Saya selalu berusaha bisa bekerja sama dengan siapapun.
Semoga di mata kuliah shumanistics studies ini bisa membantu saya menemukan jawaban bagaimana hidup dengan berbagai perbedaan di sekeliling kita.
Thanks pak atas komentarnya ...
Warm regards,
sofi