Tuhan merupakan pencipta dan pengatur alam semesta beserta isinya. Itulah definisi Tuhan selama ini yang saya ketahui secara umum. Yah, jika bicara masalah percaya atau tidak terhadap Tuhan, jawaban pertama saya adalah ya. Saya percaya pada Tuhan karena itu yang diajarkan dalam agama yang saya anut sejak lahir. Dalam agama yang saya anut, percaya kepada Tuhan merupakan suatu bentuk keimanan. Namun seperti yang dikemukakan oleh Sigmund Freud, ide Tuhan hanyalah sebuah ilusi kesadaran manusia. Memang ada benarnya jika Freud berkata demikian. Karena eksistensi dari Tuhan sendiri tidak ada. Menurut saya, jika dipikir secara akal memang sedikit aneh jika saya mempercayai sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh pancaindra. Jadinya, saya seperti meraba-raba dan berimajinasi mencari sosok Tuhan. Tuhan seolah berada dalam suatu wadah yaitu agama. Karena dari agama saya diperkenalkan sosok Tuhan dan secara otomatis saya harus mempercayainya sebagai bentuk keimanan saya terhadap agama tersebut.
Sebagai bentuk keimanan saya terhadap Tuhan, saya harus mengikuti aturan-aturan yang ada dalam agama yang saya anut yaitu menjalankan segala sesuatu yang baik dan meninggalkan segala sesuatu yang buruk. Karena dalam agama sendiri, terdapat sebuah ancaman/ sanksi dan kenikmatan yang berupa dosa dan pahala terhadap setiap perbuatan yang saya lakukan. Jika saya berbuat buruk, saya akan mendapat dosa dan begitu pula sebaliknya. Tidak cukup dengan itu, saya dapat dikatakan beriman/ percaya terhadap Tuhan. Saya juga harus melaksanakan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan oleh Tuhan, lewat utusannya yaitu Nabi. Karena agama menjanjikan kedamaian yaitu surga sebagai tempat yang lebih kekal nantinya. Dalam hati saya sebenarnya masih bertanya-tanya, benarkah tempat itu ada dengan segala kenikmatan seperti yang telah dijanjikan dan diterangkan di dalam kitab suci?.
Tuhan adalah sosok pemimpin atau penguasa alam semesta ini. Saya merasa Tuhan benar-benar dekat ketika saya melihat bencana alam yang ada dimana-mana. Begitu juga dengan musibah yang menimpa diri saya sendiri. Saya merasa musibah itu adalah peringatan Tuhan terhadap saya. Itulah yang selama ini tertanam secara otomatis dalam pikiran saya ketika saya dalam keadaan menderita. Pada kondisi demikian, saya akan cenderung lebih mendekatkan diri dengan Tuhan dan saya membutuhkan Tuhan untuk memberi ketenangan serta perlindungan. Sesungguhnya suatu kepercayaan atau ketakutan semata yang saya rasakan dalam kondisi itu, saya masih belum menemukan jawabannya. Ditambah lagi dengan adanya kematian. Hal ini menambah ketakutan pada diri saya, bagaimana kelanjutan hidup saya nantinya setelah kematian. Nah, yang bisa menjamin itu hanyalah Tuhan. Karena di dalam agama dijelaskan akan adanya dunia selanjutnya setelah mati sebagai dunia yang lebih kekal. Jika saya membangkang aturan-aturan yang ada dalam agama maka kesengsaraan yang akan saya dapat. Ketakutan-ketakutan itulah yang menjadi alasan saya untuk beragama dan percaya pada Tuhan. Selain itu, Jika saya mengamati lingkungan sekitar, orang- orang miskin juga cenderung lari atau dekat dengan Tuhan untuk mencari ketenangan atas penderitaan yang mereka rasakan. Seperti yang di ungkapakan oleh Freud bahwa manusia terlihat sangat membutuhkan Tuhan layaknya sebuah keluarga yang membutuhkan bapak.

