Banyak teman dan orang yang baru kenal saya menganggap saya adalah orang Sunda. Mengapa? Karena melihat kulit saya putih, cara bicara saya yang tidak “medok” dan suka berbahasa sunda. Padahal saya hanya bisa sedikit bahasa sunda seperti “ cicing” yang artinya diam, “haredang” yang artinya gerah dan beberapa bahasa sunda lain yang umum. Namun karena beberapa teman saya berasal dari sunda, sering mendengar percakapan mereka, jadi saya secara tidak sengaja menjadi bisa bahasa sunda dan saya juga suka menanggapi percakapan teman saya yang berbahasa sunda.
Nah, tidak jarang juga yang menganggap saya adalah seorang muslim KTP. Hal ini mereka ukur hanya dalam tingkat keseriusan saya dalam memakai jilbab. Keseharian saya di kampus memang memakai jilbab, namun pada saat- saat tertentu seperti di kosan saya tidak memakai jilbab. Ketika saya keluar kosan untuk mencari makan, belanja di warung, membeli pulsa dll yang berhubungan dengan kehidupan saya di luar kampus, saya memang sering tidak memakai jilbab. Namun, apakah tingkat keislaman seseorang dapat diukur hanya dalam hal tersebut? Mungkin hal ini diperkuat dengan foto profil saya dalam beberapa jejaring sosial seperti facebook dan twitter yang tidak berjilbab.
Menanggapi beberapa anggapan mengenai saya dari orang- orang di sekitar saya, saya rasa itu sedikit wajar. Yang pertama yaitu saya dianggap orang sunda karena kulit saya putih dan tidak “medok “ dalam berbicara dengan orang lain. Padahal saya sebenarnya adalah orang jawa asli. Lebih tepatnya adalah orang Jawa Tengah. Yang mana orang Jawa lebih digeneralisir berkulit hitam atau sawo matang dan logat bicaranya medok. Walaupun saya sendiri juga agak sedikit senang orang beranggapan seperti itu kepada saya karena hal itu cukup bisa mematahkan atau membuktikan bahwa tidak semua orang Jawa berkulit hitam atau sawo matang dan “medok”. Steriotape terhadap orang Jawa seperti itu sulit sekali untuk dihilangkan. Nah, namun ada juga kenyataan lain yang tidak mencerminkan saya sebagai perempuan Jawa adalah saya tidak lembut dan ramah. Sebagai seorang perempuan jawa harusnya saya lembut dalam bertutur kata dan juga ramah dengan setiap orang. Sampai-sampai saya kadang disangka orang batak karena cara bicara saya meledak-ledak seperti orang marah namun sebenarnya saya tidak marah tapi memang seperti itu gaya bicara saya. Kadang orang lain juga menganggap saya jutek. Mungkin memang bawaan muka saya yang sedikit jutek namun sebenarnya anggapan itu tidak benar.
Nah, Yang kedua mengenai anggapan orang lain terhadap saya yaitu sebagai seorang muslim KTP. Saya jelas menolak anggapan tersebut karena bukan berarti karena saya tidak konsisten dalam memakai jilbab, kemudian banyak yang beranggapan kalau keislaman saya hanya sebagai kedok atau istilahnya Islam KTP. Padahal saya masih menjalankan kewajiban lain sebagai seorang muslim yaitu seperti sholat, puasa, zakat dll. Orang harusnya tidak boleh melebel seseorang itu dari tampak luar atau penampilannya. Karena saya rasa, penampilan belum mewakili pribadi seseorang dan bahkan berbanding terbalik dengan pribadi orang tersebut. Namun, kebanyakan orang menilai seseorang hanya dari penampilannya saja. Orang yang berpakaian sobek-sobek , memakai rantai dan bertato belum tentu dia adalah seorang preman atau orang jahat. Di jaman kita sekarang ini justru semua itu sudah berkebalikan, kasus nyata adalah banyak maling dan copet malah berpenampilan rapi. Mereka bahkan kadang berkedok siswa atau pegawai. Jadi, kita tidak bisa menilai atau melebel seseorang dari apa yang dia tampilkan di hadapan kita.
Seberapa pentingkah kita mengetahui seseorang yang telah memberikan kita nama? Dari siapakah nama saya?. Orang tua saya bilang kalau nama saya adalah gabungan dari pemberian mereka dan usulan dari Paman juga. Namun saya masih ragu karena notabene saya adalah anak angkat. Sampai sekarang pun saya belum menemukan jawaban yang asli karena sudah lama sekali saya tak bertemu ibu kandung saya dan mendapatkan kejelasan tentang hal tersebut. Namun itu tak membuat saya sedih karena yang terpenting adalah saya mempunyai sebuah nama yang cukup elok yaitu Hana Sofiyana.
Menurut cerita dari orang tua angkat saya, nama depan Hana berasal dari 2 huruf aksara jawa ha dan na. Sedangkan nama belakang Sofiyana diadopsi dari nama istri tokoh pendiri agama di desa tempat lahir saya yaitu Sopiyah. Orang tua saya berharap saya bisa menjadi seorang perempuan yang lembut, pintar mengaji dan juga kelak mendapatkan pasangan yang kuat agamanya. Amin ya robbal alamin. Banyak teman-teman saya yang menebak kalau arti nama saya adalah bunga. Mangapa demikian? Oh ternyata setelah saya mencari tahu, nama Hana dalam bahasa jepang artinya bunga. Wah sayangnya, waktu itu orang tuaku pasti tidak berfikir segitu jauh.
Saya sudah merasa cocok dengan itu, namun kadang tidak nyaman jika orang-orang memanggil saya Hana. Awalnya karena waktu saya duduk di bangku SMP, dalam satu kelas ada 2 anak yang bernama Hana. Untuk membedakan dengan teman saya, saya lebih suka dipanggil Sofi. Namun, orang yang baru kenal biasa memanggil saya Hana. Kadang agak sedikit kesal namun mau tak mau itu tetap nama saya, jadi saya tetap harus merespon jika dipanggil.
Keinginan untuk mengganti nama sejauh ini belum ada, namun saya ingin menambahkan nama belakang saya dengan Uclugh Beuuh. Mungkin sebagian orang menganggap nama ini berlebihan tapi ini nama panggilan saya waktu SMA. Teman-teman memanggil Uclugh karena secara tidak sengaja saya sering melakukan hal aneh di depan teman-teman. Uclugh merupakan julukan saya sebagai pribadi yang O’on, lincah dan lucu. Saya sering tidak nyambung dan terlambat berfikir terhadap apa yang sedang dibicarakan teman-teman ketika berkumpul. Saya juga sering diketawakan karena kelakuananeh saya. Namun justru saya merasa nyaman dengan julukan tersebut. Akhirnya nama itu saya tambahkan di nama belakang facebook saya. Wow, ternyata respon teman-teman saya sangat luar biasa. Setiap bertemu teman di jalan, mereka menyapa saya dengan julukan Uclugh. Yah, sekarang tidak hanya sahabat-sahabat dekat saya yang memanggil Uclugh tapi hampir semua orang memanggil saya uclugh. Panggilan itu berlanjut sampai saya kuliah sekarang. Bahkan ada beberapa dosen yang memanggil saya dengan nama itu. Namun saya malah merasa bangga dengan nama Uclugh. Walaupun kedengarannya agak sedikit aneh tapi nama itu sangat cocok dengan pribadi saya.
Jadi, nama adalah doa atau harapan orang tua kepada anaknya. Orang tua memberi nama kepada anaknya pasti ada maksud tertentu. Selain itu, nama resmi maupun nama julukan pasti menggambarkan pribadi seseorang yang mempunyai nama tersebut. Namun, terbentuknya nama-nama itu berbeda. Kalau nama resmi cenderung akan membentuk suatu pribadi atau karakter diri sesuai nama itu. Sedangkan nama julukan biasanya terbentuk karena karakter diri yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari.
Memiliki suatu perbedaan dengan banyak hal di sekeliling itu sangatlah wajar. Baik dengan orang lain, lingkungan, status sosial, bahkan kepercayaan atau agama. Namun sulit untuk menjadikan perbedaan itu sebagai sebuah pembelajaran hidup. Karena, saya cenderung melihat perbedaan itu secara sempit yaitu dari sudut pandang yang sejalan dengan apa yang saya pikirkan.
Perbedaan yang sering terjadi saat saya masih duduk di bangku SD – SMP adalah ketika pembagian kelompok. Saya pasti mencari teman satu kelompok yang juga pintar dan rajin. Dengan kata lain, saya menghindari bahkan mengacuhkan teman-teman saya yang kurang pintar. Karena menurut saya, teman-teman saya yang kurang pintar hanya akan memperlambat dalam penyelesaian tugas dan nilai kelompok pasti tidak akan bagus. Di sisi lain, saya juga tidak akan bisa belajar secara maksimal jika ada orang- orang yang saya tidak sukai. Secara tidak langsung, terbentuk suatu gap yang sangat mencolok antara si pintar dan si bodoh. Namun saat memasuki bangku SMA, saya mendapatkan kenyataan lain yaitu ketika saya mulai masuk organisasi. Di dalam tes seleksi masuk salah satu organisasi internal di SMA, saya mendapatkan tes dinamika kelompok. Di dalam tes tersebut, anggota kelompoknya ditentukan oleh senior. Kebetulan saya mendapatkan teman satu kelompok yang dahulunya adalah teman sekelas saya waktu SMP. Dia termasuk bodoh dan sangat saya benci karena dia sering membangga - banggakan kekayaan orang tuanya. Saya sempat meminta pindah kelompok kepada senior dengan alasan ada konflik pribadi, sayangnya permintaan saya tidak dikabulkan. Di dalam hati saya, saya berontak karena satu kelompok dengan dia. Pada saat dinamika kelompok, awalnya saya sangat bersikeras untuk mempertahankan ide saya dalam penyelesaian masalah yang diujikan dan juga sebaliknya. Pada saat itu, terjadi perang argumen yang malah menghabiskan banyak waktu dan tidak menyelesaikan masalah. Walaupun memang sebenarnya ide dia jauh lebih bagus daripada ide saya. Padahal, awalnya saya sangat optimis jika kelompok saya pasti akan selesai terlebih dahulu dibanding kelompok lain. Namun, kelompok saya malah paling terakhir.
Pada hari itu juga, hasil anggota organisasi yang lulus seleksi diumumkan. Saya senang karena lulus seleksi namun saya terkejut karena saya harus bekerja dalam satu divisi dengan dia. Saya sempat ingin mengundurkan diri tapi ketika mendengar sambutan dari ketua organisasi saya langsung berubah pikiran. Dalam sambutannya, dia mengakatakan bahwa orang bijak adalah orang yang bisa bekerja dengan siapa pun. Dari pernyataan itu saya merasa tertantang untuk menunjukkan kemampuan saya bahwa saya juga bisa bekerja secara maksimal dengan orang-orang yang berbeda kemampuan dan pemikiran dengan saya. Saya juga harus bisa menurunkan sifat sombong dan egois saya. Dari kejadian itu saya bisa menyimpulkan kalau tidak selamanya orang pintar selalu benar dalam segala hal, dan juga orang bodoh tidak selamanya salah. Selain itu, saya juga harus bisa menghargai pendapat dan mengakui kemampuan orang lain.
Kaitannya dengan mata kuliah ini, saya berharap bisa mendapatkan banyak pelajaran hidup dan tahu bagaimana menyikapi hal-hal yang berbeda di sekeliling saya. Selain yang sudah saya utarakan di atas, saya sebagai calon guru ingin mengetahui bagaimana tindakan yang tepat untuk menghadapi murid-murid saya nantinya yang memiliki latar belakang, sifat, agama dan budaya yang berbeda.
By : Hana Sofiyana